Suzuki Thunder 250 1999 (Jakarta) Thunder Danuarta
Perhatikan baik-baik tampang Achmad Musa. Pemilik Thunder yang warga Jl. Ubud, Kuningan Timur, Jakarta Selatan ini sepintas mirip Roger Danuarta. Cek, cek, cek. Lho, kok ngomongin orangnya? Ngaco, ah!

Ya, udah! Kalau gitu ngomongin motornya aja. Mahasiswa Perbanas ini mengklaim kalau tampilan Thunder seperti miliknya jarang ada. Ya, iya lah. Kan selera modif orang itu beda-beda. Kalau sama, ya jadi biasa gitcu. Mending nggak usah dimodif. Tul, nggak!

Udah, udah! Kok jadi sewot. Balik ngomongin modif yang rasanya boleh dipelesetin jadi Thunder Danuarta. Artinya, Thunder yang pemilknya mirip Roger Danuarta. Duh, ngawur lagi.

Maksudnya, Streetfighter dengan lekukan dinamis jadi pemicu nafsu modif Musa bergejolak. Blek, blek, macam masak bubur. Maka diboyong deh Thunder yang asalnya milik Sapto from Seven Motor Sport (SMS) itu. Awalnya coba ngetes, taunya enak. Akhirnya diangkut sambil ninggalin doku Rp 35 juta.
Kontan, lho. Ndak heran kalau kemudian Sapto yang mangkal di Jl. Tanah Pasir, Gg. Perjaka, No. 29, Jakarta Utara ditunjuk angkat bicara. Sapto yang berarti tujuh mengandalkan serat kaca untuk bodi dan tangki “Setak sendiri dengan komposisi berkualitas,” pede bapak from Pati, Jawa Tengah itu.
Tekukan bodi dibuat dengan sketsa yang digambar manual. Kemudian berlanjut ke proses cetak fiber dengan berbagai bentuk dan ukuran sesuai karakter desain. Motif karbon pun dibuat dengan proses berbeda. “Kalo biasa pakai kasa nyamuk, ini beda. Pakai.....,ah rahasia. Nanti ditiru,” pede Sapto sepede-pedenya lagi. Dagu
|
BEBAS KARAT ADA LAMPU |
|
Tangki sudah diganti fiber. Keuntungannya sisi dalam tangki bebas dari korosi alias karat. Untuk mencegah fiber lumer karena rendaman bensin, doi mengaku pakai resin berkualitas yang diklaim tahan bensin. Selain itu doi juga aplikasi lubang tangki macam akuarium. Bisa diintip. “Juga dilengkapi lampu untuk memantau isi tangki malam hari,” bangga Musa yang kelahiran Batavia itu. |
|
TES JAKARTA-PATI |
|
Sok yang bukan belagu, bagian depan dikawal upside down copotan Yamaha TZR125. Belakang sudah disulap monosok dengan sasis dan lengan ayun Aprilia RS125.
Fungsi dipastikan oks banget. Meski proses pengerjaan tergolong singkat alias Cuma satu bulan, Sapto sudah dan berani membuktikan tessampai ke kampung halaman. “Jakarta-Pati, bos! Enggak ada yang rontog, llo,” yakin Sapto. |
|
Dilengkapi Thermostat |
|
Wabah overheat alias panas berlebih di blok mesin, diredam oil cooler. Dilengkapi dua kipas yang dikontrol sensor thermostat. “Saat suhu mesin panas, kipas akan menyala secara otomatis untuk mendapatkan temperatur ideal,” beber wong Pati itu lagi. |
Pasang Kisi-kisi |
|
Pemasangan fairing bikin fanas knalpot jadi tidak menyebar. Makanya ditambah kisi-kisi. Dipasang tepat di atas pipa gas buang itu. Tetap mengandalkan fiber. |
|
DATA MODIFIKASI |
|
Ban depan |
: Dunlop Riden 120/60-17 |
|
Ban belakang |
: Mitzeller 150/60-17 |
|
Pelek depan-belakang |
: Suzuki Bandit 400 |
|
Cakram depan |
: Suzuki Bandit 400 |
|
Cakram belakang |
: Variasi |
|
Kaliper Depan |
: Brembo 4 piston |
|
Kaliper belakang |
: Aprillia 2 piston |
|
Karburator |
: Keihin Sudco 34 |
|
Lampu sein |
: Sanex Hussar |
|
Raiser setang |
: Kawasaki Eliminator |