|
|
Thursday, May 04, 2006
Suzuki FR-80 1983 (Semarang) Antik, Klasik dan Nyentrik
Suprayitno punya akal segudang. Suzuki FR-80 kesayangan gak dibiarkan tampil standar. Biar okley, ide inovasi muncul dibenak warga Kalilangse, Semarang ini.

Gaya mojadul (motor jaman dulu) seumuran Ducati atau DKW, jadi acuan modif. Apalagi, bentuk FR-80 emang mendukung buat gaya mojadul.
Tinggal ambil pelat, trus dilas bagian bodi belakang sampai sepatbor. Jadi lebih klasik. Terlebih, letak bensin dipindah ke tangki yang didesain mirip DKW.
"Bawah jok dibikin bagasi kayak Honda Karisma," papar Suprayitno.
Makin gaya dipadu tongkrongan ayam jago, dengan sok depan full krom. Wow, bikin silau. "Hati senang, anak yang baru berumur 2 tahun juga ikutan senang. Bahkan minta diajari naik motor," bangga Suprayitno.
SUPRAYITNO, Kalilangse, Semarang
|
DATA MODIFIKASI |
|
Sepatbor depan |
: Honda CB |
|
Tangki |
: Honda CB |
|
Sok depan |
: Honda CB |
|
Sok belakang |
: Honda Astrea Grand |
|
Lampu depan |
: Honda 90-Z |
|
Lampu sen |
: Honda CB |
|
Setang |
: Honda CB |
|
Jok |
: Vespa |
Posted at 02:06 pm by royaje
Permalink
Suzuki Satria 2000 (Jakarta) Pesona Ceper Bertanduk
"Abis bikin Pe-Er, Mandi di waduk. Rasa Enak tiada duanya. Tampil Ceper ditambah tanduk. Sungguh asyik bisa bergaya".

Begitu kira-kira pantun di buku harian Budi Yan Alim, warga Teluk Gong, Jakarta Utara, buat gambarin motor kesayangannya. Memang pantas bergaya. Satria cepernya okley punya. Tak peduli pantat pegel karena sok depan dan belakang rigid alias mati gak ada per-nya.

"Peredam kejut depan, per-nya dicopot. Sok belakang diganti punya Force-1. Tapi yang dipasang as-nya saja, per-nya dibuang," jelas juragan Mie ayam ini. Agar roda maju, posisi lubang baut roda belakang di swing-arm dibuat maju 5 cm.

Tampilan nggak sekadar ngejar ndeprok ke tanah. Disimak bae-bae, di ujung setang ada yang naik ke atas. Oo, rupanya setang dipasang raiser sepeda gunung. "Iseng aja sih, kayaknya manis kalo dipasang. Lagian, kayaknya belum banyak yang pake modif ginian," ujar anggota Jakarta Motor Ceper Club (JMCC) tersebut.
Secara teknis, memasangnya juga nggak sulit. Soalnya, pada setang masih ada sisa tempat. "Hand grip asli beserta panel diganti variasi," lanjut cowok berbadan ceking ini.
Lirik sana, lirik sini, barang variasi lain punya sepeda mini onthel diembat juga. Mulai bel, ban depan, handle panel untuk sein, serta lampu sein belakang. "Lazimnya kaum ceper memang pake variasi punya sepeda mini," katanya berbinar-binar.
Tidak bisa lari dari pengaruh Poshmania. Semua baut dan mur pada foot step, tuas teromol rem, gas spontan, kabel gas, tuas gigi, hand grip, slang tutup oli, sampai tutup pentil, produk Posh. "Keranjang juga produk Posh. Dapetnya susah tuh, mesti pesan dulu di toko variasi Kebon Jeruk," ungkapnya. Iya deh, yang penting hati puas bisa gaya kan bro.
Chuenk
|
DATA MODIFIKASI |
|
Ban belakang : ND Premium Two Tone 50/90-17 |
: Honda Grand |
|
Ban depan : Ban sepeda mini Gajah Tunggal |
: Sepeda BMX |
|
Pelek depan : Nouvo 1,40-16 |
: GL-Pro |
|
Pelek belakang : Orsi, 1,60-17 |
: IRC 2,25-17 |
|
Filter bensin : Kitaco |
: IRC 2,50-17 |
|
Kran bensin : Kitaco |
: 14/36 |
|
Tabung Yeis : Honda NSR |
|
|
Slang rem : Nakata |
|
|
Baut bodi keseluruhan : Posh |
|
|
Foot-step : Posh |
|
|
Handle rem : Posh |
|
|
Gas spontan : Posh |
|
|
Kabel gas : Posh |
|
|
Hand grip : Posh |
|
|
Tutup pentil : Posh |
|
|
Keranjang : Posh |
|
Posted at 01:58 pm by royaje
Permalink
Thursday, April 20, 2006
Suzuki Tornado 2001 (Jakarta) Bikin Ketagihan
Dalam dunia modif, sekali kena 'sihir', nggak kenal kata cukup. Sekali coba, nggak pernah berhenti alias ketagihan. Seperti dialami Agung Cahyo Priyanto saat mulai merombak tampilan Suzuki Tornado-nya ini.

"Awalnya cuma ubah bagian depan dari bebek jadi ayam jago. Eh koq rasanya ada yang kurang terus," yakin warga Gang Anggrek, Radio Dalam, Jakarta Selatan. Motor kembali dibawa ke Ton's Chrome. Kali ini order ubahan total dari depan sampai belakang.

"Gaya boleh ekstrem tapi tetap layak dipakai harian. Seperti saat bikin sok depan up-side down dari fork teleskopik Tornado yang dibalik. Ini berfungsi alias bukan pajangan," buka Antonius Chandra juragan Ton's Chrome.

Ini modifikasi kelas berat karena segitiga atas bawah dan pemegang as roda mesti bikin sendiri. Buat Anton sih gampang karena di bengkelnya lengkap peralatan dari mesin bubut, pres sampai milling.
Urusan bikin barang custom kayak gini emang langganan digarap Ton's Chrome. Lihat saja kreasi footstep yang mirip buatan Yoshimura, padahal itu bikin sendiri dari duralium setebal 10 mm terus dianodized.
Merembet ke sepatbor depan, cover rangka tengah sampai knalpot kolong yang ditekuk sendiri dari pelat besi tipis. Sekalian saja sistem suspensi 'stereo' jadi monosok lengan ayun bermodal swing arm dan sokbreker Suzuki Satria 120R.
Urusan finishing sih eces, Anton juga melakukan pengecatan airbrush dan krom total. Nggak heran kalau Agung puas dengan karya Ton's Chrome. Malahan doi sampai beli Yamaha Jupiter-Z buat gantiin Tornado yang biasa dipakai ke kampus ISTN di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.
Lho, kok! Kan Tornado sudah kelar digarap. "Ditaruh di rumah buat dielus-elus. Ntar lecet kalau dipakai tiap hari," yakin mahasiswa Teknik Mesin ini. Walah!
Posted at 01:04 pm by royaje
Permalink
Suzuki Satria 2004 (Jakarta) Kupas Kulit Pamer Otot
Dari dulu Antonius Laka memang suka grafis tribal. Bahkan sudah sampai tiga kali ganti corak dan warna. Terakhir ini rasanya paling sreg di hati. “Kesannya gagah kalau ditunggangi. Juga enggak norak dipandang,” kenang pemilik usaha ikan hias di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Lha, gimana enggak gagah. Wong, Satria dikupas kulitnya, lalu disemprot ulang cat bercorak tribal. Eh, yang muncul malah otot. Macam orang sering latihan fitnes, gituuu. Urat tampak dari depan hingga belakang. Apalagi didukung warna dominan merah dan kuning yang juga dioplos khas urat pada daging.

Serat otot muncul lewat garis tipis-tebal hitam, tentu sebagai penyekat. “Agar tidak terkesan kusam, corak glitter, bunglon dan perak sedikit dimunculkan,” lanjut warga Jl. Bendi Utama, Kebayoran, Jakarta Selatan. Dan yang menarik, semua unsur tampak pada sepatbor depan-belakang, batok lampu, jok hingga behel.

Pria asli Kupang, NTB punya pendapat, kalau kelir krom di seputar motor enggak mutlak di otot. Tak ayal oleh Beben punggawa Bhen’s Airbrush di Bandung dapat mandat agar krom dikasih warna dominan tadi. Dan hasilnya, pelek racing orisinal Satria, lengan ayun sampai footstep belakang tidak luput dari semprotan pen brush.
Pantas kalau motor ini boyong gelar juara II Airbrush Realis di Street Contezt, Kemon 4, Kemayoran, Jakarta beberapa waktu lalu. Ciauu...
|
Tabung Sok Kiri Shogun |
|
Bodi boleh berotot. Tapi percuma kalau kaki-kaki masih terlihat ceking. Cupu alias culun punya kali, ye. Untung Anton sapaan akrabnya punya ide. Tabung sok depan kiri punya Shogun sejenis, diandalkan sebagai dudukan kaliper cakram TZM150 di kiri.
“Aslinya kan di kanan. Karena pasang dua cakram, sebelah kiri pakai kepunyaan Shogun. Kan tidak repot lagi bikin dudukan kaliper,” jelas Anton yang mengaku slang rem dibuat bercabang pada master rem. Apalagi ukuran tabung mirip alias tidak perlu banyak ubahan berarti.
Begitu juga soal cakram belakang. Dengan merek cakram sama serta didukung kaliper asli Satria. Cuma proses pasang piringan di panel rem belakang, kaliper diikat ke adaptor yang bentuknya melebar sesuai ukuran cakram. |
Posted at 12:53 pm by royaje
Permalink
Suzuki Smash 2004 (Jakarta) Mengenang Putri Tercinta
Jabeng Ahmad Farid dan Yayang Rizki Aprianti suami-istri yang ditinggakan putri tercinta. Sang dambaan hati yang baru 5 bulan pergi untuk selamanya. “Sebagai penglipur lara dan persembahan bakti orang tua kepada anak, dibuatkan modifikasi Suzuki Smash,” kenang Jabeng dari Jl. Mesjid Al Anwar, RT 005/10, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Ubahan yang dipersembahkan juga serba bersih dan suci. Sebening dan sputih kapas seperti jabang bayi yang masih bersih dari dosa. Makanya aliran modifikasi yang dipilih serba kinclong dengan memainkan silau krom.

Untuk kaki-kaki menggunakan krom logam biasa. Jabeng membawanya sendiri ke Cahaya Berlian di Joglo, Jakarta Barat. “Sedang krom bodi dikerjakan bersama teman sepermainan di klub,” jelas Jabeng sambil bagi pengalaman.
Katanya anaknya meninggal lantaran terjadi kebocoran jantung. Sewaktu hamil ibunya kerap minum obat sembarang yang dibeli dari warung.
Selain memainkan kelir gradasi di bodi, Jabeng juga modifikasi kaki-kaki. Temanya serba dua. Cakram dua dan kaliper dua. “Tapi cakram belakang baru satu. Nantinya dibuat dua,” janji Jabeng yang anaknya bernama Kaila Ramadhinta Farid. Namanya tertulis di batok lampu depan.
Bahkan sampai lampu sein belakang juga dua pasang. Standar masih hidup dan ditambah sein milik motor laki. “Kalo enggak salah punya Kawasaki Ninja,” jelas Jabeng yang mertuanya janji bakal ngeliping MOTOR Plus jika sudah terbit. Siplah.
|
DATA MODIFIKASI |
|
Pelek |
: V Rossi 1,20x17 |
|
Cakram depan |
: Variasi bawaan pelek |
|
Cakram belakang |
: TZM150 |
|
Kaliper |
: Variasi |
Posted at 12:49 pm by royaje
Permalink
Suzuki FXR150 2003 (Jakarta) Pertahankan Roh Suzuki
Terjadi debat alot di bengkel Andri ‘Aming’ Aliwarga. Builder Laksa Motor itu ‘dipaksa’ meng-custom FXR150 milik Aldo. “Awalnya ia ingin motor nya sesuai virus yang sedang berlangsung. Utamanya doyan desain R1 atau CBR yang punya ciri khas dua lampu di depan,” buka kekasih tersayang nona Acing ini.

Awalan ini membuat dahi Aming berkerut. Baginya, roh FXR kan Suzuki, ia nggak sreg jika harus meminjam konsep desain dari Honda atau Yamaha. Sepertinya, Laksa Motor nggak tega FXR kehilangan jati diri. Soalnya banyak kejadian, builder tidak peduli soal jati diri. Binter Merzy dipasangi label Harley-Davidsion. Kanzen ditemploki stiker Norton! Kan ngawur.

Kata mereka, FXR150 punya kekurangan. ”Terus terang, kami nggak begitu sreg. Secara estetika sih bagus, tapi kapasitas mesin cuma 150 cc dirasa kurang. Paling sedikit harus 200 cc,” protes mereka. Makanya, tunggangan Aldo harus lebih berotot dengan tampilan fairing paten.

Keluar ide jempol, mengundang estetika GSX750 sebagai jarahan utama. “Kebetulan kami punya referensi fairing GSX750 lansiran tahun depan. Bentuknya bagus, lebih futuristik, garis tajam menyiku dibanding lansiran 2005,” jelas tim Laksa dari Karet, Pedurenan, Jakarta Selatan. Bagi mereka, lelaku ini cocok diterapkan di FXR150.
Setelah klien dan builder punya konsep sama, baru mereka bermain detail. Garapan fiber di depan harus mengacu pada konsep GSX750 2006 yang lancip. Roh Suzuki makin bertahan dengan aplikasi lampu Satria F-150 yang sip.
Mundur ke belakang, pihak perancang ingin tangkinya dikondomi. Diberi aksen meruncing juga supaya pas dengan konsep disepakati. Sayang, pemilik merasa cukup dan doyan dengan tampilan asli FXR150. Di sini perlu sedikit kompromi. Pasalnya ini menyangkut selera seseorang.
Terus ke belakang, Laksa merancang sendiri agar enak dilihat. “Bagian atas beres tinggal konsen di kaki-kaki,” kata mereka. Untuk soal ini keduanya kompromi memasukkan upside down Cagiva Mito yang kekar diameter 41 mm. Kokohnya sektor depan dibarengi monosok Kawasaki ZX1000 yang bisa dikawinkan dengan lengan ayun FXR150. “Ada modifikasi dikit. Sok tadi agak panjang, dudukan harus dimundurkan 1 cm agar motor tetap rata,” jelas Aming.
Pamungkas, garfis warna meniru stripping GSX-R1000 2005. Ada komentar? Isf@n

|
LAMPU KUDU KOMPAK |
|
Model lampu menentukan merek motor. Moge Yamaha identik dengan dua lampu di kiri-kanan fairing dengan ukuran belo. Ditiru untuk bebek kecil pun cirinya tetap begitu. Bisa dilihat di Nouvo-Z, X1 versi Thailand dan Jupiter MX 135LC.
Begitu juga pabrikan Honda. Menurunkan lampu CBR1000 untuk CBR150. Dua lampu di kiri-kanan fairing berukuran sedang. Juga Suzuki lewat bebek Satria F-150 yang lampunya meniru Hayabusa, trus Suzuki Katana 125 versi Thai, meniru dari GSX-R1000.
Di fairing juga begitu. “Jangan asal pasang lampu kalau nggak mau dibilang ngawur. Merek Suzuki, pakai lampu dari Suzuki juga,” wanti Aming. Seperti FXR150 punya Aldo yang caplok lampu Satria F-150. Kan klop. |
Posted at 12:39 pm by royaje
Permalink
Suzuki Raider 150 2004 (Banten) Benci Satria
Subiyakto penggeber Suzuki Raider dari Tangerang, Banten. Dia orang bukan tipe pengecut dan benci sama Suzuki Satria. Tapi dia sebel, gondok, dongkol dan sebagainya. Itu terjadi setelah Suzuki Satria F-150 dijual resmi. Dia beli dari impotir umum Rp 26 juta. Sedang Suzuki Indonesia cuma melego Rp 16 juta. Pahitttt…!

Nah, untuk membuang kesan Satria, anggota Bayangkara Otomotif Club Tangerang itu kontak Andri Aming Aliwarga, bos Laksa Motor. Tampilan ayam jago diubah agar terbebas dari hal berbau Satria. “Contohnya sok depan diganti upside down Cagiva Mito,” urai Aming yang ketemu di Contezt MEFRIK di Kemon 4 lalu.
Paling xtreme kaki belakang dibikin pincang. Tidak perlu pinjam pistol polisi buat nembak kaki lainnya biar langsung diamputasi. Tapi dipasang pro-arm Honda NSR 150SP. Lengkap berikut pelek depan dan belakang.
Selanjutnya bodi ditelanjangi. Ciat…. jurus tambal sulam serat fiberglass dimainkan. Mulai dari depan sampai buritan diganti total. Pantatnya dibuat meruncing dengan ujung kalpot mencuat dari bawah jok.
Tapi, kok! Katanya anti Satria F-150. Tapi cover bodi tengah penutup mesin malah dipasang fenuh. Padahal bedanya Raider dengan Satria, ya di tutup mesin itu. Raider tanpa engine guard, lho. Tapi enggak papa, yang penting dapat gelar juara di kelas The Best Suzuki. Hebat! Aong
|
DATA MODIFIKASI |
|
Ban depan |
: Battlax 100/70-17 |
|
Ban belakang |
: Battlax 120/70-17 |
|
Setang |
: Standar modifikasi |
|
Knalpot |
: Endurance |
|
Sepatbor depan |
: Cagiva Mito |
|
Sepatbor belakang |
: Laksa Motor |
|
Monosok |
: Ohlins |
|
Foostep depan |
: Yoshimura |
|
Kaliper depan |
: Brembo 4 piston |
|
Master rem |
: Brembo |
|
Kulit jok |
: Yoshimura |
Posted at 12:20 pm by royaje
Permalink
Suzuki Thunder 250 2000 (Banten) Setengah Telanjang
Ragil Sunariyadi punya konsep modif setengah telanjang. Ih semi dong. Iya fairing hanya separuh atau meniru pabrikan luar yang punya konsep minus fairing. Contohnya Yamaha FZ-1 hasil menelanjangi Yamaha R-1. Soal model ini, lengkapnya bisa intip halaman 5.

Warga Pondok Aren, Gg. Haji Umar, Tangerang, Banten ini langsung ketemu Steven Motor yang dianggap dekat dengan rumah. Semi fairing dibuatkan dari fiberglass digabung lampu Aprilia RS250.
Selanjutnya fairing dikemas seperti nyambung dengan airscop milik Kawasaki Ninja. Fungsinya menangkap udara agar fokus mendinginkan mesin. Selanjutnya bodi belakang juga dibikin menyatu dengan tangki baru dari moge.
Kaki-kaki ikut dibikin bengkak. Sok depan diambil dari Yamaha FZR400. Sementara monosok dari Kawak Ninja. “Ada sedikit ubahan pada monosok, yakni untuk setelan ketinggiannya yang sudah pakai ulir,” jelas Ragil. J@ck
|
|
SISA OMR DAN MASUK JURANG |
|
|
Dulunya, nih Thunder sering dapat piala dari OMR (One Make Race) Suzuki. Makanya mesin sudah kena sentuhan korek lumayan serius. Namun lantaran kelas itu sudah nggak ada, makanya diajak ikut contezt di Kemon 4, 10-11 September 2005 lalu.
Cerita modif diawali dari turing bareng satu klub. “Di daerah Banjarnegara masuk jurang dan langsung direhab aja,” kenang lajang yang lagi kuliah di Institut Teknologi Indonesia ini.
|
|
DATA MODIFIKASI |
|
Ban depan |
: Battlax 110/70-17 |
|
Ban belakang |
: Battlax 150/60-18 |
|
Knalpot |
: Yoshimura |
|
Footstep depan |
: TZR250 |
|
Mesin |
: Beji Motor Sport, Depok |
|
Cat |
: Kembar Jaya Motor Pondok Aren, Tangerang |
|
Cutting sticker |
: Iwan 3M Jl. Musyawarah, Cilandak, Jatim |
Posted at 11:03 am by royaje
Permalink
Tuesday, April 18, 2006
Suzuki RGR150 1995 (Tangerang) Supermoto MEFRIK
|
Selain konsep streetfighter ataupun sporty look, aroma MEFRIK kental disasar modif supermoto ini. Gak percoyo? Sok, bedah kreasi Nisyanto Pribadi alias Amor. Dia orang modifikator Loaxan di Jl. Raya Ciledug, Gg. Haji Mencong, Ciledug, Tangerang.

Unsur inovasi dan kreatif menonjol pada desain bodi dan tangki. Amor pasang paket bodi kreasi yang terbuat dari pelat galvanis 0,8 mm. Dipilih galvanis, karena dianggap lebih ringan, kuat dan murah. "Ketimbang beli paket produk plastik punya orisinal merek ternama," alasan Amor.

Itung-itungannya begini. Untuk dapatkan satu paket bodi plus tangki gaya, Amor cuma perlu doku Rp 1,6 juta. Itu kondisi belum dicat, lho. Sementara kalau beli paket bodi asli supermoto minimal kudu siapin kocek Rp 6,5 jeti. Jauh kan selisihnya!

Lirik juga penggunaan kopling hidrolik yang diterapkan Amor. Jelas mewakili unsur kreatif, inovasi, modern, sekaligus mendukung fungsi. Ide itu jelas bikin kopling terasa lebih ringan. Untuk jenis motor kayak gini, jelas sangat mendukung. Tangan enggak pegal buat narik kopling doang. Soal gimana buatnya, Em-Plus pernah kupas tuntas cara bikinnya di edisi 336/VI, halaman 6.
Unsur fungsional tidak perlu diragukan. Gaya motor macam ini bukan semata sedap dipelototi, apalagi sekadar nangkring di garasi. Tapi juga handal digeber di segala medan. Namanya juga gaya supermoto. Mau jalan aspal ayo, jalan tanah siap.
Terakhir, memenuhi unsur rasional. Tidak ada ubahan yang terkesan maksa. Apalagi mengada-ada, huu..... enggak mainlah yauw. Semua variasi yang dipasang dipikir matang. Bukan asal tempel, doang. Chuenk
|
MURAH DAN KUAT |
|
Meski konsepnya murah dan kuat, bukan berarti onderdil dan variasi yang dipasang ngasal. Untuk beberapa jenis, doi gunakan barang bagus. Setidaknya produk dari merek yang tak diragukan. Mau tahu barang apa saja yang punya merek, silakan lirik saja data modifikasi. |
|
|
DATA MODIFIKASI |
|
Ban depan |
: Battlax 110/70-18 |
|
Ban belakang |
: Battlax 1,20-17 |
|
Pelek depan |
: Takasago 1,85X18 |
|
Pelek belakang |
: Takasago 2,50X17 |
|
Setang |
: Tag Metal |
|
Lengan ayun |
: Kawasaki Ninja |
|
Monosok |
: Suzuki TS125 |
|
Sok depan |
: CRM 125 cc |
|
Lampu depan |
: Costum Acerbis |
|
Knalpot |
: HRD/Acerbis |
|
Master kopling |
: Nissin, GL-Pro |
|
Kaliper |
: Hidrolik |
|
Teromol belakang |
: Kawasaki Ninja |
|
Teromol sok depan |
: Suzuki Thunder 250 |
|
Gir |
: 13/46 |
|
Sepatbor depan |
: Honda CR |
|
Cat |
: GEV Speed Joglo, Jakarta Barat |
|
Kisaran biaya |
: Rp 13 juta | |
Posted at 06:34 pm by royaje
Permalink
Suzuki Thunder 125 2004 (Jakarta) Monster Karbon
Sudah pasti. Jangan ditanya lagi, nih Thunder memang MEFRIK abiz. Kalau cuma Modern, Estitika, Fungsional, Rasional, Inovasi dan Kreatif sudah tercakup semua. Tapi oleh Yulianto Widodo MEFRIK yang dipopulerkan Em-Plus itu ditambah embel-embel gahar.

“Iya, aku pengin tampilan motor yang laki-laki banget. Kayak Ducati Monster yang menonjolkan tulang dari pipa tralis,” buka warga Bumi Dirgantara Permai E4, Bekasi ini.
Rombakan ditangani Andri Aming Aliwarga from Laksa Motor. Gak salah pilih, karena Aming yang bukan pemain Extravaganza itu memang jagonya. “Rangka ditambah pipa tubular. Penambahan itu bikin kesan Monster kentara,” jelas Aming lagi.
Namun sebelumnya, sektor rangka terlebih dahulu dibenahi. Pemotongan sasis belakang tidak bisa dihindari untuk mengejar kesan nungging. Ditopang lengan ayun Cagiva Mito yang kini mengawal roda belakang.
Penambahan detail ikut dipikirkan serius. Meski kecil, punya fungsi menambah estetika. Bisa lirik bagian samping tangki dan sisi kanan-kiri jok belakang. Variasi yang sudah dikemas karbon itu lumayan merecoki tampilan. Pastinya nggak semua orang bisa menebak kalau ini Thunder 125.
Inovasi yang diusung juga enggak kalah heboh. Seluruh bodi tambahan sudah dikemas full karbon. “Coba perhatikan seksama, motif kotak-kotak samar menghiasi hampir seluruh bodi,” tunjuk Aming.
Inovasi tiada henti J@ck
|
DATA MODIFIKASI |
|
Ban depan |
: Dunlop 110/80-17 |
|
Ban belakang |
: Pirelli 140/70-17 |
|
Pelek depan-belakang |
: Hornet |
|
Sok depan |
: Aprilia |
|
Lengan ayun |
: Cagiva Mito |
|
Footstep belakang |
: Jupiter-Z |
|
Footstep depan |
: NSR150 SP |
Posted at 06:07 pm by royaje
Permalink
|
|
|