<< May 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31



Untuk Bro-Bro yang pengen liat postingan sebelumnya silahkan klik tanggal yang berada di kalender kiri atas.


















If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, June 13, 2006
Suzuki Thunder 250 1999 (Jakarta) Thunder Danuarta

Perhatikan baik-baik tampang Achmad Musa. Pemilik Thunder yang warga Jl. Ubud, Kuningan Timur, Jakarta Selatan ini sepintas mirip Roger Danuarta. Cek, cek, cek. Lho, kok ngomongin orangnya? Ngaco, ah!


    
Ya, udah! Kalau gitu ngomongin motornya aja. Mahasiswa Perbanas ini mengklaim kalau tampilan Thunder seperti miliknya jarang ada. Ya, iya lah. Kan selera modif orang itu beda-beda. Kalau sama, ya jadi biasa gitcu. Mending nggak usah dimodif. Tul, nggak!


    
Udah, udah! Kok jadi sewot. Balik ngomongin modif yang rasanya boleh dipelesetin jadi Thunder Danuarta. Artinya, Thunder yang pemilknya mirip Roger Danuarta. Duh, ngawur lagi.



Maksudnya, Streetfighter dengan lekukan dinamis jadi pemicu nafsu modif Musa bergejolak. Blek, blek, macam masak bubur. Maka diboyong deh Thunder yang asalnya milik Sapto from Seven Motor Sport (SMS) itu. Awalnya coba ngetes, taunya enak. Akhirnya diangkut sambil ninggalin doku Rp 35 juta.

Kontan, lho. Ndak heran kalau kemudian Sapto yang mangkal di Jl. Tanah Pasir, Gg. Perjaka, No. 29, Jakarta Utara ditunjuk angkat bicara. Sapto yang berarti tujuh mengandalkan serat kaca untuk bodi dan tangki “Setak sendiri dengan komposisi berkualitas,” pede bapak from Pati, Jawa Tengah itu.

 

Tekukan bodi dibuat dengan sketsa yang digambar manual. Kemudian berlanjut ke proses cetak fiber dengan berbagai bentuk dan ukuran sesuai karakter desain. Motif karbon pun dibuat dengan proses berbeda. “Kalo biasa pakai kasa nyamuk, ini beda. Pakai.....,ah rahasia. Nanti ditiru,” pede Sapto sepede-pedenya lagi. Dagu     

 

BEBAS KARAT ADA LAMPU

Tangki sudah diganti fiber. Keuntungannya sisi dalam tangki bebas dari korosi alias karat. Untuk mencegah fiber lumer karena rendaman bensin, doi mengaku pakai resin berkualitas yang diklaim tahan bensin.
    
Selain itu doi juga aplikasi lubang tangki macam akuarium. Bisa diintip. “Juga dilengkapi lampu untuk memantau isi tangki malam hari,” bangga Musa yang kelahiran Batavia itu.
 

TES JAKARTA-PATI

Sok yang bukan belagu, bagian depan dikawal upside down copotan Yamaha TZR125. Belakang sudah disulap monosok dengan sasis dan lengan ayun Aprilia RS125.

Fungsi dipastikan oks banget. Meski proses pengerjaan tergolong singkat alias Cuma satu bulan, Sapto sudah dan berani membuktikan tessampai ke kampung halaman. “Jakarta-Pati, bos! Enggak ada yang rontog, llo,” yakin Sapto. 

Dilengkapi Thermostat

Wabah overheat alias panas berlebih di blok mesin, diredam oil cooler. Dilengkapi dua kipas yang dikontrol sensor thermostat. “Saat suhu mesin panas, kipas akan menyala secara otomatis untuk mendapatkan temperatur ideal,” beber wong Pati itu lagi. 

Pasang Kisi-kisi

Pemasangan fairing bikin fanas knalpot jadi tidak  menyebar. Makanya ditambah kisi-kisi. Dipasang tepat di atas pipa gas buang itu. Tetap mengandalkan fiber. 

DATA MODIFIKASI

Ban depan              

: Dunlop Riden 120/60-17

Ban belakang          

: Mitzeller 150/60-17

Pelek depan-belakang  

: Suzuki Bandit 400

Cakram depan           

: Suzuki Bandit 400

Cakram belakang        

: Variasi

Kaliper Depan          

: Brembo 4 piston

Kaliper belakang       

: Aprillia 2 piston

Karburator             

: Keihin Sudco 34

Lampu sein             

: Sanex Hussar

Raiser setang          

: Kawasaki Eliminator


Posted at 05:47 pm by royaje
Comment (1)  

Suzuki Satria F-150 2006 (Jakarta) Teknologi GP125

Iwan Cahyadi bos TKM (Teguh Karya Manunggal) memang selalu punya gebrakan. Lama bertapa dan tidak main motor. “Sekarang muncul dengan Satria F-150 yang mengusung teknologi GP125,” jelas Budi Uddin Fakar, bos Jatayu Motor Sport yang dapat kepercayaan menggarap.

 

 

Bodi sih masih standar abis. “Tapi biaya modifikasi bengkak bukan main,” jelas Iwan yang dulu sponsor tim road race dan grasstrack. Pastilah mahal untuk jarahan itu perlu mengorbankan 1 unit Yamaha TZ125 keluaran 1996.

 

 

Yamaha TZ125 biasa dipakai balap di GP125. Paling mudah diingat lihat pacuan Dony Tata Pradita ketika dapat wild card ikut GP125 di Malaysia. “Nah, itu dia motornya sama persis,” jelas Budi dari komplek THI, Tubagus Angke, Jakarta Barat.

 

 

Aslinya Yamaha TZ125 koleksi Budi. Lantaran motor balap tulen dan posturnya pas untuk orang Indonesia. Kaki-kaki spek balap namun masih tetap enteng. Dipindahkan untuk menggantikan kaki F-150 pas banget.

 

Paling sip sokbreker depan upside down. Porsinya ideal sama tongkrongan F-150. Tidak begitu besar dan enggak kekecilan. Ukuran tabung punya diameter 35 milimeter. Beda jauh dengan punya Aprilia RS125 yang punya diameter tabung 41 mm.

 

Dipasang di F-150 tetap masih menggunakan segitiga TZ125. Namun setelah dipasang kelewat pendek dan memaksa pengendara harus bungkuk. Akhirnya dibuatkan spacer peninggi. Tapi sangat sulit lantaran bukan sebagai adaptor biasa.

 

Di dalam spacer ada penyetel rebound dan kekerasan per. Permukaan dalam spacer punya ulir sebagai dudukan penyetel itu. Seharusnya dibuat dengan mesin bubut komputer atau CNC. Tapi, oleh karyawan Budi pakai mesin bubut biasa. Wajar jika gagal beberapa kali.  

 

Lantaran satu set plek kaki depan dari TZ125, pemasangan roda dan peranti pengereman tidak ada yang diubah. Kaliper dan adptor asli TZ125, hanya slang rem saja dipakai buatan.

 

Mempermanis muka, cover batok lampu depan tidak dipakai lagi. Dibuatkan dari fiberglass. “Rada besar dan dibikin tanduk naik-turun,” kata Budi yang sayang mencoak cover buatannya untuk jalur kabel kopling. Kata Budi seharusnya handel kopling ganti yang kecil seperti tuas rem Mio.

 

Sampai disini pengerjaan baru setengah jadi. Tinggal kaki belakang yang diamputasi. Diganti juga satu set dari TZ125. Namun ribet lantaran posisi monosok dan sistem unitrax kudu dipasang seperti di TZ125. “Dicari sudut yang benar-benar tepat agar rebound tetap bagus seperti aslinya,” jelas Budi yang bongkar-pasang beberapa kali sampe pusing.

 

SELANJUTNYA PROYEK AJM

Stop! Budi Uddin cukup hanya sampai di kaki-kaki. Selanjutnya Ahmad Jayadi, bos AJM (Adi Jaya Motor) yang bakal berperan. Dia akan memainkan jurus korek mesin berdasarkan pengalaman dari road race. Kan Jayadi mantan juara nasional.

Pasti setelah melihat kaki-kaki F-150 ini bikin Jayadi terkenang masa 1996-1997. Dia pembalap Indonesia yang geber Yamaha TZ125 turun dengan predikat wild card di GP Sentul. Juga melawan Valentino Rossi yang ketika itu masih di kelas capung itu.


Posted at 05:41 pm by royaje
Comments (21)  

Suzuki New Shogun 110 2003 (Jogja) Antara Katana dan Arashi

Allan Filly, bos Allan Filly Modification (AFM) lagi iseng. Modifikator Jogja itu mendesain Suzuki New Shogun 110 tampil macam bebek replika. Lekuk bodi dan lampu depan macam punya moge Suzuki GSX-R750. Ini bebek replika pertama dari Jogja.    

 

 

Allan yang penganut MEFRIK itu tidak banyak mengubah New Shogun 110 mendekati desain bebek replika. Dia cukup mencopot cover depan asli, diganti fiber. Didesain agar batok lampu punya Suzuki Satria F-150 bisa nangkring di depan.

 

 

Lho, kenapa yang dipakai bukan lampu moge Suzuki. Tidak perlu, sebab desain lampu Satria F-150 memang sudah niru lampu Suzuki Hayabusa versi lama. Mirip dengan lampu GSX-R750.   

 

Katanya ide semplakan yang dipakai karyawan bengkel AFM ini sederhana. “Meniru Suzuki Katana Thailand itu. Utamanya pada panel bodi dan posisi lampu depan yang dipindah ke bawah kedok lampu,” ucap Allan yang sampai sekarang tidak setuju sama modif patung itu.

 

Agar betul-betul macam Suzuki Katana betulan, lampu buritan disokong dari Suzuki Shogun 125. Posisi lampu nggak hanya Katana tok, dab. Persis Suzuki Arashi yang detailnya pernah dijepret Em-Plus.

 

Cuma di Shogun garapan Allan enggak ada kisi-kisi di bawah lampu seperti Arashi. Gimana kalau usul ditambah kisi-kisi. “Wah aku malah baru tahu kalau model Arashi seperti itu,” kilah pria yang biasa dipanggil Bang Allan sambil ngakak. Wakak..kak...kak...

 

Batok lampu utama di setang ditambal fiber. Jadi buta dong? “Enggak, tapi  disusupi lampu variasi macam mata alien,” jelas Allan yang puas ikut contezt modif garapan MOTOR Plus.

 

Begitu pula panel bodi pada Shogun buat belanja ini. Sederhana dan banyak polosnya alias simpel. Namun begitu, ruang di balik tebeng enggak ada. Yang ada hanya bagian tebal dengan sudut menyiku. Jelas beda dengan tebeng asli, makanya tampak lebih padat. Bahkan sepatbor depan ada cambang atau godek yang menjulur sampai ke bagian tengah batang sokbreker.

 

Hasilnya cukup enak buat belanja spare part. Siapa saja boleh nyemplak. Asal karyawan AFM dan bukan maling. Gombak

 

DATA MODIFIKASI

Peleg depan

: Sprint Tiger 2,50X17

Peleg belakang

: Sprint Tiger 3,00X17

Master & kaliper

: Brembo Cagiva Planet

Sok belakang

: Honda CBX1000

Cakram depan

: Gigadisc

Cakram belakang

: KTM 250 SC


Posted at 05:35 pm by royaje
Comments (18)  

Suzuki Smash 2005 (Tangerang) Namaku Sumaha X-1

Sebagai pedege (pedangang) variasi, Benny Wijaya mesti mengup-date info soal komponen anyar yang lagi in. Sebab, kalau tidak, niscaya doi bakal terus ketinggalan. Awas jangan sampai ketinggalan kereta. Wah, ngawur!

 

 

“Makanya, saya berlangganan majalah luar. Khususnya dari Thailand. Mau nggak mau, untuk motor cc kecil, negeri Gajah Putih itu jadi kiblat. Banyak order variasi berasal dari negeri itu,” jelas punggawa Utama Motor itu.

 

 

Pilihan jatuh ke bebek Yamaha X-1. “Sporty juga minimalis. Makanya saya kasih nama Sumaha X-1 alias Suzuki Yamaha X-1,” ungkap pria yang beralamat di Jl. Raden Saleh, No.6, Karang Tengah, Ciledug, Tangerang.

 

Mencangkok bodi X-1 ke Smash tidaklah terlalu sulit. “Tetap ada beberapa tambahan. Sebab, dudukan beda. Untuk bodi depan dan tengah, perlu menambah braket yang dipasang di blok mesin kiri-kanan. Spidometer juga mesti diganti bawaan X-1, begitu juga lampu belakang,” jelas pria berambut lurus ini.

 

Tampilan sporty makin lengkap dengan aplikasi pelek casting wheel alias palang. “Tanggung modif, jadi sekalian saja pakai rem cakram depan-belakang,” jelas Benny sejelas-jelasnya.

 

Peranti ciet belakang juga sudah pakai dobel cakram. Tapi yang kiri kok nggak ada kaliper? “Ini cuma variasi,” aku Benny.

 

Weeeh!

 

DATA MODIFIKASI

Ban depan

: Mizzle 80/80-17

Ban belakang

: Mizzle 90/80-17

Pelek depan-belakang

: Yoshi

Sok belakang

: Gazi

Cakram depan

: Yamaha TZM

Lengan ayun

: Standar, krom


Posted at 05:29 pm by royaje
Comment (1)  

Suzuki Satria 1997 Tangerang Setahun Jadi Pemulung

Memungut barang bekas jangan dinilai hina. Buat Arief  Syarifudin yang hobi main kotor-kotoran, ngumpulin barang bekas bisa jadi karya seni. “Biar kayak pemulung, tapi motor gue jadi keren!” bangga pegawai perusahaan telekomunikasi swasta itu di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan.



Hobi Arief pada grasstrack menuntunnya pada komunitas ‘setang baplang’. Doi tahu kalo ada barang-barang motor penggaruk tanah yang mau dijual. “Gue ngumpulin sejak setahun lalu. Sejak itu bermimpi bikin Suzuki Satria ini ala Enduro,” ujar warga Komplek Departemen Agama di kawasan Kedaung, Pamulang, Tangerang itu.



Satu per satu dikumpulkannya. Tapi fokusnya pada peranti milik special engine KTM. Awalnya dapat cover bodi di bawah tangki dan bagian bagian tengah. Disusul buntut kuda besi penggaruk tanah asal negeri Austria. Lalu, sepatbor depan dan hand-guard. “Kecuali sokbreker depan dari Honda XR, asli copotan dari KTM. Dapatnya dari 5 orang berbeda,” ungkap Arief.



Setelah dirasa cukup, Arief mengusung Satria-nya ke bengkel P@s Motor di Jl. Otista, Ciputat, Tangerang. Di bengkel spesialis modif itu dipesan tangki, cover samping tengah dan rangka buritan. “Patokannya dari buntut. Mau buritan nggak terlalu nongol. Jadi ukuran tangki ngikut,” jelas pria keturunan Betawi dan Sunda itu.

Di tangan Ujang Abdul Wahid, dibuat tangki yang ramping. “Bentuk tangki seperti KTM. Tapi ukurannya disesuaikan. Abis kalo persis aslinya KTM, kegedean di rangka Satria,” jelas Ujang yang karib disapa Kumis. Yang menarik, meski ukuran tangki terlihat kecil, sebenarnya volumenya lumayan. Muat 8 liter bensin.

Nah, agar mirip KTM, kelir pun dipilih ciri motor bikinan Austria itu. Oranye ngejreng. Sekarang siapa sangka itu motor dari limbah?


Posted at 05:15 pm by royaje
Comments (3)  

Suzuki Thunder 250 2003 (Tarakan) Dari Honda Hornet Versi Modif

Otak builder penuh inspirasi baru. Seperti Budi Udin Fakkar dari Jatayu Motor Sport (JMS). Dapat ide dari prototype Honda Hornet 600 versi modif from internet. Dilacak dari situs Honda Swiss yang menyuguhkan berbagai macam prototipe dan desain kuda besi.

 

 

Canggih memang. Rada melenceng dari vakum Honda Hornet 600 versi standar. Paling mencolok kaki-kaki dan bodi diubah. Sok depan upside-down dan lengan ayun tunggal. Juga ekor yang meruncing macam pacuan MotoGP.

 

 

Suzuki Thunder punya desain tangki yang mirip dengan Hornet 600. Dari lekukan depan, punggung dan punuknya. "Tinggal dimensinya diperbesar sedikit dengan cara memanjangkan ekor tangki," jelas Budi yang membuat sendiri cetakan tangki dari fiberglass.

 

 

Budi tidak mentah-mentah mencaplok dari desain yang ada. Modifikator berbadan busar ini memadukan berbagai jenis model tangki. Paling gampang dilihat pada lekukan samping yang dijepit paha pengendara. Itu meniru dari Honda Tiger.

 

 

Begitu pula ekor lancip. Tidak sepenuhnya mencontek dari Honda Hornet 6000 versi modif. Ekor paling ujung meniru Honda CBR150, berikutnya lampunya juga dari motor keluaran Honda Thailand itu. Sedang ekor tengah sampai depan, dicontek dari GSX1000. Kan tampak futuristik.

 

 

Maupun desain lampu depan. Rada unik dan masih jarang. Sekilas seperti keluaran Acerbis untuk kuda pacu motocross. Bernuansa garang lantaran dicat motif karbon. Bagi yang berminat, silakan kontak Budi, ini dijual eceran, kok. Eh promosi hi hi hi....

 

Satu lagi yang perlu dicermati. Cover bodi tengah yang dicat hitam. Sekilas tampak kaku. "Sengaja dirancang mencolok supaya kontras dengan kelir rangka bawah yang silver," argumen pria yang kerap bolak-balik Indonesia-Singapura itu. Hati-hati...

Tidak luput, tutup mesin dibikin mirip Hornet versi modif. Juga moncong knalpot model potong bambu. Bukan potong bebek, lho.

KAKI FUTURISTIK

Karya Budi tidak sepenuhnya tertumpu meniru Honda Hornet 600 versi modif. Titik berat difokuskan pada pencapaian nilai futuristik. Seperti lengan ayun, tidak dipasang model pisang. Tapi dicarikan pro-arm VFR400-R.

Inovasi baru, dibuatkan stabiliser meniru MV Agusta. Fungsi stabiliser sekaligus menutup dudukan monosok Showa. Enaknya, kelembutan sok bisa diatur lewat tuas yang ada di lengan ayun. Tingga putar sesuai kemauan. Mau keras atau empuk.

BUKAN PUNYA BUDI

Asli! Sesungguhnya Suzy Thunder milik Handryanto dari di Tarakan, Kalimantan Timur. Dibeli dari dealer di Jakarta atas nama Budi.

Handryanto alias Akhay, Wiraswastawan 33 tahun kerap konsultasi desain modif dengan Budi dari Jl. Tubagus Angke Komplek THI, Q/29, Jakarta Utara.

Konsultasi tidak lewat kabel atau HP. Namun melalui e-mail. Akhay punya konsep agar dibikin street-fighter. "Nentuin model butuh 3 bulan," tutup Budi.

 

DATA MODIFIKASI

Kaliper depan

: Brembo 4 piston, master Brembo

Kaliper belakang

: Nissin 2 piston, master rem Nissin

Cakram depan

: 300 mm

Cakarm belakang

: 240 mm

Sok depan

: GSXR400 Showa

Sok belakang

: Showa

Swing-arm

: Pro-arm VFR 400

Footstep

: meniru dari Honda CBR400

Pelek depan

: Enkei 3,50x17

Ban depan

: Pireli 120/60-17

Pelek belakang

: Enkei 4,50x18

Ban belakang

: Pireli 160/60-17

Setang

: Kawasaki Ninja, raiser Yamaha FZR

Tutup tangki

: Kawak Ninja

Deltaboks

: fiberglass

Fairing

: Acerbis

Speedometer

: Suzuki Bandit

Lampu depan

: Acerbis

Windshield

: Acerbis

Body belakang

: JMS Design

Behel belakang

: Suzuki Thunder

Lampu belakang

: Honda CBR150

Tutup mesin

: JMS Design

 


Posted at 05:04 pm by royaje
Comments (3)  

Suzuki Shogun 1997 (Rangkas Bitung) Berontak Lagi...!

Jiwa klasik Abep Sadat berontak lagi. Suzuki Shogun miliknya jadi korban. “Rombak abis, ubah tampang bebek jadi low raider,” jelas pemuda asal Jl. Prof. Dr. Sutami Rangkas Bitung, Banten. Low rider bukan berarti dikhususkan bagi penyemplak cebol alias pendek. Tapi, ground clearen yang cium bumi.  


    
Sebelumnya Abep Sadat yang bukan keluarga Anwar Sadat mantan perdana menteri Mesir itu pernah rombak Suzuki Smash. Tampil di cover MOTOR Plus edisi 205. Ketika itu dia bilang, “Sebagian orang ingin tampil modern dengan hal terbaru. Saya tidak. Tapi nuansa masa depan tetap kentara.”



Begitu juga sekarang, konsepnya digarap bareng bro-nya dari Beps Modifikasi. Memajukan sudut rake yang pertama kali dilakukan. Rumah komstir jadi sasaran. Coak sedikit sisi atas-bawah sambungan komstir, lalu ditekuk ke atas pakai las. “Hati-hati, jaga posisi komstir tetap presisi supaya motor tetap stabil dikendarai,” wanti Abep.


    
Sokbreker depan punya GL-Pro dipasang sebagai pengganti yang orisinal. Lengkap dengan T-nya. “Biar ada tempat buat pasang setang motor laki macam gaya ape hanger,” kembali Abep menjelaskan.


    
Untuk bagian belakang masih menggunakan peredam kejut GL-Pro. Enggan aplikasi rangka model rigid lantaran kurang nyaman. “Biar sedikit beda, sokbreker belakang dirakit dua, punya GL-Pro juga,” lanjut Abep.  


    
Yang bergerak keluar-masuk meredam getaran tetap di posisi bawah. Bagian atas ditutup tabung sokbreker dari motor yang sama sebagai variasi. Untuk mengunci batang sokbreker memanfaatkan baut tutup oli sok. “Kalau ganti oli sokbreker mesti buka penutup variasi sok,” jelas Abep.



Selanjutnya, pasang besi melintang di atas rangka asli sebagai rangka tambahan. Biar kesan bebek hilang total. “Macam kontruksi rangka motor laki. Sekaligus berfungsi penguat komstir,” lanjut pria yang punya tubuh irit ini.

Dua Jadi Satu

Akibat pasang sokbreker depan di belakang, panjang lengan ayun terpaksa harus disesuaikan. Tujuannya, biar pas dengan panjang sok. Serta membuat posisi motor tetap lebih dekat dengan tanah seperti ciri gaya low raider.

Lengan ayun asli dicopot. Gantinya dua dijadikan satu. Milik Tiger yamg disambung dengan punya Mega Pro. Hanya diperlukan bagian belakang. Tepatnya, dipotong pas 15 cm dari belakang yang ada lubang as roda.

“Memerlukan dua lubang as roda yang disambung bersusun. Bagian atas tetap berfungsi sebagai baut as roda. Sedang yang bawah berguna sebagi tempat baut pegangan stoper rem belakang,” tunjuk Abep. 

 

Aman Pakai Paralon

Bodi terondol mesti memikirkan kerapian saat mengatur kabel kelistrikan. CDI, aki dan koil dibuat tempat khusus di bawah rangka tambahan. Tidak dibikin dari metal. Untuk menghindari hubungan pendek. “Dipilih dari pipa paralon, karena memang bukan pengahantar listrik.

 

Kabel Kopling Vespa

Ukuran lengan ayun yang makin panjang bikin masalah pada rem belakang. Tuas sambungan pedal rem dan teromol belakang kurang panjang. Mesti diatur ulang. Akhirnya diganti tuas sambungan rem belakang pakai kabel. Pakai kabel kopling Vespa biar panjang-pendek mudah diatur.

 

DATA MODIFKIASI

Ban depan

Yance 100/180-16

Ban belakang

Yance 90/90-18  

Pelek belakang

3,00X16

Pelek depan

2,15X18

Sok depan

Honda Mega Pro


Posted at 04:45 pm by royaje
Make a comment  

Thursday, May 04, 2006
Suzuki RK Cool 2003 (Jakarta) Gayanya Cool Banget

Itu ucapan pertama kali yang keluar dari mulut Rivaldo, dari Jl. Mahoni G6, Blok B, Jakarta Utara. Memang gayanya sudah cool apalagi naik RK Cool yang sudah dimodif abis. "Cool banget nggak sih!"

 

 

Oke sekarang mulai ngomongin gaya modifnya. Yang pasti tetep menganut aspek fungsional dalam melakukan rombakan. "Fungsi adalah faktor utama dalam melakukan ubahan," bilang pemuda 17 tahun itu.

 

 

RK Cool memang sudah menampilkan roh laki. "Dari sononya Cool ini sudah ayam jago, jadi tinggal dipercantik," buka pemuda akrab dipanggil Iponk ini.

 

Ubahan mencolok terlihat di kaki-kaki. Coba deh liat kaki depan yang sudah aplikasi model asepdon dari Ohlins. Makin klop dipadu piringan ekstra lebar yang jelas bikin mantep pengereman. Apalagi menganut dobel cakram, sekali pencet langsung lengket.

 

Kaki-kaki beres, modifnya menjalar ke saluran buang. Saluran digunakan untuk mengalirkan gas sisa pembuangan ini dibikin memanjang sampai buritan. Jelas gaya motor trail yang menjadi acuan. Masuk kategori model udang.

 

Ditambah dengan membungkus kabel-kabel dan slang rem. Caranya menggunakan slang shower. Selain menambah manis tampilan, slang juga melindungi kabel.

 

Terakhir, cukup melabur keseluruhan bodi dengan rona biru. Grafis serasi dipadu dengan rona biru variasi yang ikut mejeng. "Faz The Cool yang ada di Warakas 3, G3, Jakarta Utara dipercaya ngebrush," tutupnya. J@ck

 

DATA MODIFIKASI

Ban depan

: Sixxis 80/80-17

Ban belakang

: Battlax 90/80-17

Pelek depan

: Daiichi

Pelek belakang

: Daiichi

Cakram depan

: TZM150

Cakram belakang

: TZM150

Sok belakang

: YSS

Stabiliser

: Laytona

RPM

: Movic

 
 
================================================

Posted at 03:49 pm by royaje
Comment (1)  

Suzuki Smash 2004 (Jakarta) Halus Itu Biasa!

Mickey Octora coba tampil unik. Mencari cat yang seperti kulit jeruk. Padahal biasanya orang ngecat biar mulus. "Cat halus itu udah biasa, jadinya dibikin kasar dengan mengubah-ubah ukuran semprotan cat," cerita pemilik Suzuki Smash ini.

 

 

Seluruh pengerjaan digarap bareng Toby, teman akrabnya.   Cukup pakai cat Danagloss. Miki yang masih kuliah di Universitas Gunadarma coba gabungkan cat cokelat tua dan muda dengan komposisi 1/4 kg (tua), dan 1/2 kg (muda).

"Biar seperti kulit jeruk, setelah kena cat dasar mulut semprotan diperbesae. Dengan begitu, cat keluar dengan ukuran besar dan jatuh menetes," ceritanya tentang proses pengecatan. Mengenai ubahan mulut semprotan cat ini Mickey cuma mengandalkan perasaan.

 

 

Bodi yang sudah tidak licin tadi masih coba dibuat tidak mengilap. Caranya dengan menggunakan cat pernis dof dari Sikkens. Untuk pernis ini warga Pondok Manggala, Depok menghabiskan pernis sampai setengah kg.

 

Tapi, masalah kulit kasar tadi rupanya hanya di bagian atas. Sebab sektor bawah mulai mesin, knalpot, dan pelek tampil bening dan mulus karena memang kena krom.

 

Selanjutnya Miki masih coba tampil nyentrik dengan memasang windshield. Kaca pelindung depan itu didapat setelah sibuk mencari ke sejumlah bengkel motor lawas. Biar bisa dipasang, setang terpaksa harus diganti. Cukup pakai sepeda gunung. Memang lebih kuat, gitu? Nurfil

 

DATA MODIFIKASI

Ban

: Michelin 70/90-17

Pelek

: Yoko

Cakram depan

: Yamaha TZM

 
==========================================================

Posted at 03:38 pm by royaje
Comment (1)  

Suzuki Shogun 2003 (Jakarta) Tanda Lahir Markas Baru

Panjang sudah perjalanan Jakarta Coast Custom (JCC). Mulai dari praktik di pojok lahan kosong komplek KPBD. Bahkan numpang di bengkel Vespa milik kawan pun pernah dijabani. Beruntung penghujung 2005 rumah modifikasi aliran fashion di Jakarta ini benar-benar punya markas atau workshop tepat.

 

 

“Pastinya sih 20 November lalu diresmikan sekaligus syukuran. Dan lokasi kali ini nggak akan pindah lagi,” pasti Irwan mewakili JCC yang sekarang punya markas di Jl. Kebayoran Lama, No. 35, Pal. VIII, Jakarta Selatan.

 

 

Sebagai tanda lahir atau berdirnya markasa baru, JCC juga bikin garapan spesial. Berbekal Suzuki Shogun 2003 milik Yunawardi Bondan yang juga punggawa JCC. Tema diangkat tidak jauh dari perjalan panjang JCC. Yakni, tampang wong Indian. Brother tahu kalau suku asli benua Amrik ini nomaden alias sering pindah-pindah mengikuti hewan buruan.

 

Maka untuk mengenang perjalanan itu, latar belakang wajah Indian dikrom plastik logam mulia alias emas. “Kebetulan aja pas. Abis kalau cuma krom emas kurang sip. Aku minta Udi Mulyanto dari Potlot Planet Airbrush Jogja mengairbrush beberapa tema di bodi motor,” timpal Bondan yang tinggal di Jl. Pejompongan Raya, Jakarta Pusat.

 

Tapi biar dibilang enggak kebetulan, secara tidak langsung modif sobat sudah cukup berbicara sejarah berdirinya JCC. Iya kan.

 

KOK NGGAK MEFRIK!

Namanya juga fashion, ganti kaki dan pasang rem cakram banyak, punya maksud biar enak dilirik. Lewat jari-jari Meilano Kurniawan alias Olan rekan Irwan, kaki depan standar Shogun disesaki komponen Koso.

Sementara untuk kaki belakang. Sok YSS cukup mendukung pelek Enkei 1.40X17 berlapis karet ND Premium 50/90-17 untuk roda depan-belakang. Terlebih sudah didukung empat carkam Laser diapit empat kaliper RX-King.

Oke juga memang. Tapi, pemasangan ban macam itu, kaca lampu ala foglamp dan tanpa jok bikin Shogun ini jauh dari kesan, moderen, estetika, fungsional, rasional, inovasi dan kreasi alias MEFRIK.

Apa memang sudah nggak MEFRIK lagi, gituuu!


Posted at 03:06 pm by royaje
Make a comment  

Previous Page Next Page